Langsung ke konten utama

Nomor 12


Rintik hujan membasahi jendela dekat tempat aku duduk. Suasana begitu sepi di kafe ini, mungkin karena cuaca hujan membuat orang-orang mengurungkan niatnya untuk keluar rumah.
“Silahkan tehnya,” ucap seorang pelayan yang mendekat kemudian meletakkan secangkir teh hangat dari nampan ke meja.
“Terimakasih,” balasku singkat sebelum si pelayan beranjak kembali ke dapur. Aku meneguk tehku perlahan diiringi alunan musik dari pengeras suara. Lagunya terdengar begitu familiar di telingaku. I’m Still Standing milik Elton John rupanya. Pantas saja tidak terasa asing. Lagu ini kuputar tanpa mengenal waktu ketika aku masih duduk di bangku SMA, menemaniku mengerjakan tugas.
Lamunanku seketika buyar ketika lonceng di pintu berdenting menandakan seseorang masuk. Seorang wanita dengan pakaian mode terkini; kaos putih tulang ditutupi jas lengan tiga perempat warna marun dengan bawahan ripped jeans. Sepatu hak tinggi berwarna hitam, tas jinjing, dan jam tangan dari merek yang terkenal menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia berjalan menghampiriku sembari melepaskan kacamata hitamnya.
“Lama tidak berjumpa, El,” sapanya.
“Lihatlah ini sudah pukul berapa, Nona Danastri. Kau sudah terlambat 12 menit dari waktu yang kita tetapkan kemarin,” balasku singkat kemudian menyodorkan menu padanya. “kau sudah membuatku menunggu dan itu bukan sesuatu yang bagus,”
“Formal sekali kamu, El!” ia tergelak. “Perlukah aku memanggilmu dengan nama lengkap, Nona Ophelia Evelyn Gunawan? Sepertinya kamu memang tidak berubah, tetap saja saklek. Kita ini bukan di pertemuan resmi,”
“Memang aku seperti ini orangnya. Sudah cepat kamu pesan sesuatu, kamu pasti belum makan tadi karena jadwal rapatmu yang seabrek itu,”
“Lagi-lagi kau memang tidak berubah banyak, masih sebagai teman yang perhatian,” ia mengambil menunya kemudian mulai memesan.
“Lalu bagaimana denganmu, Tri? Apakah engkau masih sama atau sudah berubah? Aku belum mendengar banyak tentangmu,” Kataku segera sesudah si pelayan selesai mencatat pesanan Astri. Ia yang awalnya banyak mengoceh lantas terdiam.

Aku bertemu dengan Danastri Ardiningrum Wicaksono, biasa dipanggil Astri, saat kami masih berada di kelas 1 SMA. Pertemuan pertama kami hanya sebatas karena kami kebetulan sekelas. Aku, El yang adalah seorang murid biasa dan bisa dibilang rada antisosial hanya berbincang dengan Astri sesekali saja saat memang diperlukan. Ia merupakan anak semata wayang dari seorang politisi Senayan yang cukup kondang. Tak heran bila lingkaran pergaulannya terbatas pada anak-anak pejabat dan orang kaya yang tentu lebih selevel dengannya.
Astri memiliki perawakan yang indah. Wajah manis khas Jawa dengan kulit kuning langsat dan tinggi semampai. Rambutnya yang panjang lebih sering dibiarkan tergerai, sepertinya ia sering pergi ke salon karena rambutnya terlihat sangat terawat. Kepandaiannya dalam bersosialisasi dan bertutur kata membuatnya menjadi dikenal dan disukai satu sekolah. Ditambah lagi Astri bekerja sebagai model di luar kegiatan sekolah. Ia menjadi gadis idaman cowok-cowok di SMA kami. Tak hanya dicintai anak-anak satu sekolah, ia juga menjadi kesayangan para guru. Benar-benar kehidupan yang sempurna. Sudah cantik, kaya, terkenal pula.
Namun reputasinya seketika hancur ketika ayahnya tersandung skandal korupsi dan ditetapkan sebagai tersangka. Hidupnya berubah 180o. Job menjadi model berkurang drastis. Para guru diam-diam mencibir tak hanya ayahnya, Astri dan ibunya pun tak luput dari pembicaraan di kantor guru. Ia menjadi buah bibir namun kali ini bukan memuja melainkan menghina. Tak sedikit yang dengan terang-terangan mengejeknya di lorong dengan sebutan “anak koruptor”, bahkan ada yang tak segan-segan mengguyur air, melempar sampah, dan melakukan tindakan hina lain padanya. Semua sahabat yang dulu baik padanya menyingkir. Mereka berlagak seolah orang yang paling tahu soal keluarga Astri dan dengan mudahnya menyebarkan berbagai fitnah keji.
Astri yang malang. Ia yang awalnya ceria berubah menjadi pemurung, Ia memilih duduk di pojok belakang padahal biasanya ia selalu berada di bangku tengah baris paling depan. Lebih lagi, ia jadi hobby menangis di depanku. Iya, Astri selalu menangis di hadapanku saat jam istirahat, tak peduli apa yang saat itu sedang kulakukan. Mungkin karena aku satu-satunya anak yang tidak pernah keluar kelas saat istirahat. Padahal aku cenderung tidak pernah menggubris, biasanya kutinggal membaca buku, mengerjakan tugas, bahkan tidur.

Dentingan suara dari gelas yang menyentuh meja kaca membangunkanku dari ingatan mengenai masa lalu Astri.
“Melamun aja terus sana sampai kesurupan,” celetuk Astri.
“Kamu mau jawab aja pakai lama sih,” balasku.
“Iya, iya, maaf, jadi tadi apa pertanyaanmu? Aku sampai lupa hehehe…”
“Kabarmu. Jadi bagaimana kabarmu beberapa tahun ini, masih sama atau sudahkah berubah?”
“Sebenarnya tidak banyak berubah sih,” tuturnya. “tapi aku sama saja dengan berdusta bila aku menyangkal realita bahwa kehidupan di sekelilingku berubah drastis. Aku masih Astri dengan segala kesulitannya dan cap mengenai ayahku, bedanya aku sudah tidak cengeng lagi seperti dulu. Aku merintis usaha di dunia fashion seperti yang aku geluti waktu aku menjadi model dulu,”
“Baguslah kalau begitu, aku senang mendengarnya,”
“Terimakasih, El. Mungkin kalau aku tidak bertemu denganmu waktu itu aku tidak akan punya semangat berjuang dan bangkit, setidaknya melawan kelemahanku sendiri,”

Lagi-lagi aku terbawa pada masa 10 tahun lalu. Tepat di kafe ini, di meja yang sama nomor 12. Astri mengajakku makan sepulang sekolah. Lebih tepatnya aku makan dan dia menangis. Kedengarannya kejam ya, tapi siapa sih yang bisa menolak ditraktir apalagi saat lapar melanda? Saat aku sudah selesai makan dan mulai jenuh dengan tangisannya tiba-tiba Astri mulai menceritakan semuanya. Baik mengenai keluarganya yang di ambang perceraian karena ibunya yang sudah tidak tahan lagi dipermalukan hingga seisi sekolah yang mencacinya. Aku sendiri saat itu tidak bisa berkata-kata karena masalahnya memang begitu berat dan aku tidak dapat membantunya, aku hanya bisa mendengarkan keluhannya. Aku hanya dapat menyemangatinya agar berjuang setidaknya sampai lulus dari SMA sebelum ia pindah ke luar kota.

“Aku saat itu hanya butuh untuk didengarkan, dan mungkin hanya kamu yang bersedia mendengarkan seluruh keluh kesahku. Aku sangat berterima kasih,” pungkasnya.
“Aku juga berterimakasih padamu, mungkin kalau tidak menghadapimu saat itu aku tidak akan terpikir untuk mempelajari ilmu psikologi dan jadi psikolog sekarang, untuk membantu Astri yang lain,” tuturku. Kami hanya saling berpandangan dan tersenyum.
“Tidak terasa sudah hampir jam 4, aku duluan ya, aku harus pulang karena ada yang menungguku,” pamit Astri lalu berdiri mengambil tas tangannya.
“Semoga kita dapat bertemu lagi ya,” kataku. Ia hanya tersenyum kemudian melambai padaku. Tak lama lonceng bordering kembali menandakan ia sudah keluar. Aku memandangi singkat kursi depanku yang kembali kosong seperti sedia kala. Kemudian aku mengecek ponselku yang berbunyi. Namun kali ini, jantungku serasa berhenti ketika membaca pesan dari grup Whatsapp alumni SMA.

Danastri Ardiningrum Wicaksono, meninggal hari ini pukul 15.12 karena kecelakaan mobil. Tepat ketika ia datang di meja nomor 12. Teh hangat yang ia pesan masih utuh dan mengepul di hadapanku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Intro

So, all i wanna say is... Hi guys! Welcome to my blog, and this is my first post! :)) Sebenernya ini bukan perngalaman pertamaku di dunia blog karena dulu juga sempat aktif ngeblog waktu masih SD (and u guys mestinya tahu lah seberapa alaynya postingan blog anak SD :'D), dulu postingannya aku masih inget banget seputar fangirling lah karena waktu itu masih anget dan ngetrend banget blog berbau KPop gitu. Terus semakin gede semakin ga sempat ngurus blog dan akhirnya sudah berdebu :D  Mungkin ada dari antara kalian yang bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa ga dilanjutin aja di blog yang lama? Kenapa harus buat yang baru?" Jawabannya simple aja sih. Karena post di blog yang lama udah banyak banget dan ga tega buat menghapus, anggep aja kenang-kenangan lahh :")  Kembali ke topik intro, blog ini isinya akan random banget lah. Mungkin beberapa dari pemikiran aku yang pengen banget aku publikasikan, cerita-cerita tentang pengalaman unik yang terjadi di kehidup...