Rintik hujan membasahi
jendela dekat tempat aku duduk. Suasana begitu sepi di kafe ini, mungkin karena
cuaca hujan membuat orang-orang mengurungkan niatnya untuk keluar rumah.
“Silahkan tehnya,” ucap
seorang pelayan yang mendekat kemudian meletakkan secangkir teh hangat dari
nampan ke meja.
“Terimakasih,” balasku
singkat sebelum si pelayan beranjak kembali ke dapur. Aku meneguk tehku
perlahan diiringi alunan musik dari pengeras suara. Lagunya terdengar begitu
familiar di telingaku. I’m Still Standing
milik Elton John rupanya. Pantas saja tidak terasa asing. Lagu ini kuputar
tanpa mengenal waktu ketika aku masih duduk di bangku SMA, menemaniku
mengerjakan tugas.
Lamunanku seketika
buyar ketika lonceng di pintu berdenting menandakan seseorang masuk. Seorang
wanita dengan pakaian mode terkini; kaos putih tulang ditutupi jas lengan tiga
perempat warna marun dengan bawahan ripped
jeans. Sepatu hak tinggi berwarna hitam, tas jinjing, dan jam tangan dari
merek yang terkenal menunjukkan bahwa ia bukan orang sembarangan. Ia berjalan
menghampiriku sembari melepaskan kacamata hitamnya.
“Lama tidak berjumpa, El,”
sapanya.
“Lihatlah ini sudah
pukul berapa, Nona Danastri. Kau sudah terlambat 12 menit dari waktu yang kita
tetapkan kemarin,” balasku singkat kemudian menyodorkan menu padanya. “kau
sudah membuatku menunggu dan itu bukan sesuatu yang bagus,”
“Formal sekali kamu,
El!” ia tergelak. “Perlukah aku memanggilmu dengan nama lengkap, Nona Ophelia
Evelyn Gunawan? Sepertinya kamu memang tidak berubah, tetap saja saklek. Kita
ini bukan di pertemuan resmi,”
“Memang aku seperti ini
orangnya. Sudah cepat kamu pesan sesuatu, kamu pasti belum makan tadi karena
jadwal rapatmu yang seabrek itu,”
“Lagi-lagi kau memang
tidak berubah banyak, masih sebagai teman yang perhatian,” ia mengambil menunya
kemudian mulai memesan.
“Lalu bagaimana
denganmu, Tri? Apakah engkau masih sama atau sudah berubah? Aku belum mendengar
banyak tentangmu,” Kataku segera sesudah si pelayan selesai mencatat pesanan
Astri. Ia yang awalnya banyak mengoceh lantas terdiam.
Aku bertemu dengan
Danastri Ardiningrum Wicaksono, biasa dipanggil Astri, saat kami masih berada
di kelas 1 SMA. Pertemuan pertama kami hanya sebatas karena kami kebetulan
sekelas. Aku, El yang adalah seorang murid biasa dan bisa dibilang rada
antisosial hanya berbincang dengan Astri sesekali saja saat memang diperlukan.
Ia merupakan anak semata wayang dari seorang politisi Senayan yang cukup
kondang. Tak heran bila lingkaran pergaulannya terbatas pada anak-anak pejabat
dan orang kaya yang tentu lebih selevel dengannya.
Astri memiliki
perawakan yang indah. Wajah manis khas Jawa dengan kulit kuning langsat dan
tinggi semampai. Rambutnya yang panjang lebih sering dibiarkan tergerai,
sepertinya ia sering pergi ke salon karena rambutnya terlihat sangat terawat.
Kepandaiannya dalam bersosialisasi dan bertutur kata membuatnya menjadi dikenal
dan disukai satu sekolah. Ditambah lagi Astri bekerja sebagai model di luar
kegiatan sekolah. Ia menjadi gadis idaman cowok-cowok di SMA kami. Tak hanya
dicintai anak-anak satu sekolah, ia juga menjadi kesayangan para guru.
Benar-benar kehidupan yang sempurna. Sudah cantik, kaya, terkenal pula.
Namun reputasinya
seketika hancur ketika ayahnya tersandung skandal korupsi dan ditetapkan
sebagai tersangka. Hidupnya berubah 180o. Job menjadi model
berkurang drastis. Para guru diam-diam mencibir tak hanya ayahnya, Astri dan
ibunya pun tak luput dari pembicaraan di kantor guru. Ia menjadi buah bibir
namun kali ini bukan memuja melainkan menghina. Tak sedikit yang dengan
terang-terangan mengejeknya di lorong dengan sebutan “anak koruptor”, bahkan
ada yang tak segan-segan mengguyur air, melempar sampah, dan melakukan tindakan
hina lain padanya. Semua sahabat yang dulu baik padanya menyingkir. Mereka berlagak
seolah orang yang paling tahu soal keluarga Astri dan dengan mudahnya
menyebarkan berbagai fitnah keji.
Astri yang malang. Ia yang
awalnya ceria berubah menjadi pemurung, Ia memilih duduk di pojok belakang
padahal biasanya ia selalu berada di bangku tengah baris paling depan. Lebih
lagi, ia jadi hobby menangis di depanku. Iya, Astri selalu menangis di hadapanku
saat jam istirahat, tak peduli apa yang saat itu sedang kulakukan. Mungkin
karena aku satu-satunya anak yang tidak pernah keluar kelas saat istirahat.
Padahal aku cenderung tidak pernah menggubris, biasanya kutinggal membaca buku,
mengerjakan tugas, bahkan tidur.
Dentingan suara dari
gelas yang menyentuh meja kaca membangunkanku dari ingatan mengenai masa lalu
Astri.
“Melamun aja terus sana
sampai kesurupan,” celetuk Astri.
“Kamu mau jawab aja
pakai lama sih,” balasku.
“Iya, iya, maaf, jadi
tadi apa pertanyaanmu? Aku sampai lupa hehehe…”
“Kabarmu. Jadi
bagaimana kabarmu beberapa tahun ini, masih sama atau sudahkah berubah?”
“Sebenarnya tidak banyak
berubah sih,” tuturnya. “tapi aku sama saja dengan berdusta bila aku menyangkal
realita bahwa kehidupan di sekelilingku berubah drastis. Aku masih Astri dengan
segala kesulitannya dan cap mengenai ayahku, bedanya aku sudah tidak cengeng
lagi seperti dulu. Aku merintis usaha di dunia fashion seperti yang aku geluti
waktu aku menjadi model dulu,”
“Baguslah kalau begitu,
aku senang mendengarnya,”
“Terimakasih, El.
Mungkin kalau aku tidak bertemu denganmu waktu itu aku tidak akan punya
semangat berjuang dan bangkit, setidaknya melawan kelemahanku sendiri,”
Lagi-lagi aku terbawa
pada masa 10 tahun lalu. Tepat di kafe ini, di meja yang sama nomor 12. Astri
mengajakku makan sepulang sekolah. Lebih tepatnya aku makan dan dia menangis.
Kedengarannya kejam ya, tapi siapa sih yang bisa menolak ditraktir apalagi saat
lapar melanda? Saat aku sudah selesai makan dan mulai jenuh dengan tangisannya
tiba-tiba Astri mulai menceritakan semuanya. Baik mengenai keluarganya yang di
ambang perceraian karena ibunya yang sudah tidak tahan lagi dipermalukan hingga
seisi sekolah yang mencacinya. Aku sendiri saat itu tidak bisa berkata-kata
karena masalahnya memang begitu berat dan aku tidak dapat membantunya, aku
hanya bisa mendengarkan keluhannya. Aku hanya dapat menyemangatinya agar
berjuang setidaknya sampai lulus dari SMA sebelum ia pindah ke luar kota.
“Aku saat itu hanya
butuh untuk didengarkan, dan mungkin hanya kamu yang bersedia mendengarkan
seluruh keluh kesahku. Aku sangat berterima kasih,” pungkasnya.
“Aku juga berterimakasih
padamu, mungkin kalau tidak menghadapimu saat itu aku tidak akan terpikir untuk
mempelajari ilmu psikologi dan jadi psikolog sekarang, untuk membantu Astri
yang lain,” tuturku. Kami hanya saling berpandangan dan tersenyum.
“Tidak terasa sudah
hampir jam 4, aku duluan ya, aku harus pulang karena ada yang menungguku,”
pamit Astri lalu berdiri mengambil tas tangannya.
“Semoga kita dapat
bertemu lagi ya,” kataku. Ia hanya tersenyum kemudian melambai padaku. Tak lama
lonceng bordering kembali menandakan ia sudah keluar. Aku memandangi singkat
kursi depanku yang kembali kosong seperti sedia kala. Kemudian aku mengecek
ponselku yang berbunyi. Namun kali ini, jantungku serasa berhenti ketika
membaca pesan dari grup Whatsapp alumni SMA.
Danastri Ardiningrum Wicaksono,
meninggal hari ini pukul 15.12 karena kecelakaan mobil. Tepat ketika ia datang
di meja nomor 12. Teh hangat yang ia pesan masih utuh dan
mengepul di hadapanku.
Komentar
Posting Komentar